"Hallo, untuk berapa orang?" Sapaan itu yang pertama kali menyambutku saat masuk ke sebuah bangunan yang sama sekali tidak mencerminkan itu tempat ngopi. Bangunan itu kecil, berbentuk kotak dengan bagian atas seperti menggunakan gebyok, jendela yang hanya tertutup kain motif, papan bertuliskan 1956. Di bagian depan hanya ada bangku kecil dengan atap yang tak seberapa … Continue reading 1956 Mor Solo: Laweyan, Kopi, Story dan Pelarian
